Dari Emas Sampai Tembaga, Ini Logam Pilihan Investor

Dari Emas Sampai Tembaga, Ini Logam Pilihan Investor

Harga komoditas logam mulia dan logam dasar pada perdagangan akhir pekan lalu melemah. Namun sepanjang 2018, harga komoditas ini telah naik cukup signifikan.

Dalam sepekan terakhir, harga emas mencatatkan perkembangan yang cukup positif dengan penguatan 2,33% dan sepanjang 2018 naik 3,45%. Mengutip Reuters, Senin (19/2/2018), penguatan harga emas dalam seminggu lalu dipicu oleh aliran modal keluar yang cukup besar pada aset-aset berisiko di Amerika Serikat (AS).

Hal tersebut ditunjukkan oleh obligasi korporasi perusahaan yang memiliki imbal hasil yang tinggi (perusahaan dengan rating rendah) mengalami outflow hingga US$ 6 miliar. Pergerakan investor yang meninggalkan aset-aset berisiko juga terlihat dari imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang nyaris mencapai 3% dalam sepekan lalu.

Meskipun, dalam seminggu kemarin AS telah menunjukkan pemulihan, tetapi risiko volatilitas yang tinggi masih menghantui investor. Instrumen investasi emas dan obligasi pemerintah AS pun masih berlaku di pasaran.
Tidak hanya emas, ternyata investor juga minat komoditas mineral ditengah volatilitas bursa saham. Komoditas mineral masih menunjukkan perkembangan yang positif sepanjang tahun 2018 hingga pekan kedua bulan Februari ini. Harga nikel dan timah masing-masing meningkat 9,17% dan 8,23% year to date (YTD).

Selama sepekan terakhir, harga nikel telah melambung 7,25% ke US$ 13.870,5/ton, sementara harga timah naik 3,45% ke US$ 21.750/ton. Harga Nikel yang mampu menembus kisaran US$ 14.000 pada pekan lalu, pertama sejak Mei 2015.

Permintaan sektor stainless global yang masih cukup kuat serta terbatasnya pasokan masih menjadi penyokong penguatan harga nikel. Permintaan nikel sebagai bahan baterai kendaraan bermotor juga masih berkembang, meskipun permintaan untuk teknologi ini baru akan terasa dampak besarnya di masa depan.
Terbatasnya pasokan diwarnai oleh keputusan perusahaan Vale yang memotong produksi nikel hingga 15% atau sebesar 45.000 ton pada 2018. Perusahaan asal Brazil ini juga masih dalam proses mencari investor untuk tambang baru diKaledonia Baru. Dalam jangka panjang, perusahaan ingin menjaga ketersediaan nikel untuk mengantisipasi lonjakan permintaan untuk kendaraan listrik satu dekade ke depan.

Selain itu, badai tropis yang menyerang Madagascar pada awal Januari lalu menyebabkan kerusakan pada operasi nikel diAmbatovy. Perusahaan mengestimasi operasi hanya akan berjalan sebesar 50% kuartal, dimana produksi dari nikel yang sudah dimurnikan anjlok dari 40.500 ton ke 33.500 ton hingga Maret 2018.

Sebagai tambahan, produsen nickel pig iron (NPI) di China juga mengurangi tingkat produksi nikel seiring dengan kebijakan pemerintah yang mengetatkan produksi barang tambang. Namun demikian, setelah sempat menggoyang pasar global melarang ekspor bijih nikel mentah, Indonesia siap kembali ke pasar dunia, dengan pasokan yang lebih besar dari sebelumnya. Hal ini dapat memicu harga nikel kembali membumi.

Harga tembaga yang sempat jatuh hingga minggu pertama Februari juga menunjukkan pemulihan. Pada sepekan terakhir harga tembaga mampu rebound hingga 6,66% ke US$ 3,2259/pound. Namun secara YTD masih melemah sebesar 1,6%.

Menguatnya harga tembaga dalam sepekan terakhir masih didorong oleh melemahnya dolar AS serta pertumbuhan industri pengolahan dunia yang kuat. Indeks dollar AS melemah hingga 1,48 % dalam seminggu lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *