Pesan sekarang!
BISNIS KERAJINAN TEMBAGA  Merawat Generasi Perajin

BISNIS KERAJINAN TEMBAGA Merawat Generasi Perajin

BISNIS KERAJINAN TEMBAGA  Merawat Generasi Perajin
Copper smith at work

Jiwa perajin sudah tertanam sejak lama pada sosok Ian Bachtiar. Selama puluhan tahun, bisnis kerajinan tembaga sudah digeluti oleh keluarganya, dan tradisi itu telah mengakar pada dirinya. Tak pelak usaha yang dilakoninya kini kian melejit hingga bisa ekspor.

Ian berkediaman di Desa Tumang, Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya di antara kaki gunung Merapi dan Merbabu. Desanya dikenal sebagai ‘markas’ para perajin tembaga. Seni tempa sudah mendarah daging pada masyarakat setempat.

Beberapa keluarga di sana membangun usaha rumahan kerajinan tembaga untuk dijual ke pasar, baik domestik maupun internasional. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak mulai terbiasa dengan kerajinan tembaga sehingga tidak heran sebutan desa perajin melekat pada warga desa itu.

Kerajinan itu juga diturunkan pada Ian. Keluarga pria berusia 23 tahun itu memulai bisnis tempa tembaga sejak 1970-an. Dimulai dari sang kakek hingga orang tuanya, kini pemuda itu mengepalai usaha tempaan yang diberi nama Griya Tembaga.

Usaha itu dimulai saat sang kakek masih susah payah mencari pelanggan. Demi mendapat pembeli, kakeknya bahkan rela menempuh perjalanan jauh dari Surabaya hingga Jakarta. Saat itu belum ada media mumpuni untuk memperkenalkan usaha kecilnya, sehingga Maryanto–kakek Ian—menempuh cara pemasaran door to door.

Bisnis ini kian melejit bahkan hingga dapuk kepemimpinan di usaha rumahan tersebut berganti ke ayah Ian, Susanto. Saat ayahnya memutuskan ‘pensiun’, Ian diminta melanjutkan bisnis tersebut. Dari tangan dinginnya, Ian mampu memproduksi beragam jenis barang dengan model unik nan apik.

Selama proses pengerjaannya, Ian sangat mementingkan kualitas hasil produksi. Cara itu dijadikan pakem untuk memberikan kepuasan bagi pelanggan. Misi tersebut rupanya berhasil menggaet pembeli yang lebih besar. Setiap pelanggan akan menjadi duta promosi produk kerajinannya.

Saat ini Griya Tembaga secara konsisten memproduksi setidaknya 50 produk berupa lampu gantung. Pelanggan biasanya akan menjual sebagian barang ke konsumen lain seperti untuk kafe dan rumah pribadi.

Harga yang ditawarkan juga tidak main-main. Ian mematok harga mulai ratusan hingga miliaran rupiah untuk satu hasil kerajinan. Harga tersebut, menurutnya, sesuai dengan hasil dan bahan baku yang dibeli di pasar internasional.

“Kami menjual kualitas, selain memang kami memperoleh bahan baku melalui impor, bagi kami kepuasan pelanggan akan menentukan keberlangsungan usahanya,” kata Ian.

Biasanya produk yang paling murah seperti lampu gantung berukuran kecil dibeli untuk kepentingan dekorasi kafe. Namun, produk dengan nilai miliaran juga sempat diterimanya seperti kubah masjid selebar 20—25 meter yang dipesan warga Banjarmasin. Harga satu kubah tembaga dibanderol mencapai Rp1 miliar.

Sementara itu, lampu gantung untuk furnitur rumah juga punya harga beragam mulai Rp1,5 juta—Rp6 juta. Semua harga selalu disesuaikan dengan kesulitan pengerjaan dan bahan baku yang harus digunakan.

“Kami selalu menjelaskan kenapa terkadang harganya mahal, tapi akhirnya pelanggan mengerti dan puas dengan hasil yang kami kerjakan,” ceritanya.

Ian tidak memaksakan produksi harus dilakukan oleh usahanya. Jika Griya Tembaga tidak dapat memproduksi barang dengan jumlah besar, dia akan memberikan kepada perajin rumahan lain di desanya.

Dia juga tidak menyia-nyiakan perkembangan media sosial dewasa ini. Menurutnya, memanfaatkan jalur media sosial sama dengan mengembangkan usaha menjadi lebih baik lagi. Tak pelak produk buatannya kini sudah pernah ekspor ke sejumlah negara seperti Italia. Ian tidak sendiri dalam menjalankan usahanya. Dia dibantu oleh 17 karyawan dengan spesialisasi berbeda. Pekerja biasanya terbagi dalam beberapa kelompok, seperti untuk membuat pola, membuat bentuk, sampai pewarnaan. Semua disesuaikan dengan spesialisasi tiap pengrajin.

Dalam satu bulan, dengan pembelian yang tidak menentu, Ian masih dapat meraup laba bersih hingga Rp20 juta. Namun, adakalanya pendapatannya hanya Rp10 juta jika pesanan kerajinan tembaga sedang seret.

“Menjalankan usaha ini perlu ketekunan dan fokus untuk mencapai visi misi yang diiinginkan,” ujarnya.

Bagi Ian, melanjutkan usaha keluarga ini bukan cuma soal keberlangsungan bisnis, tetapi tentang seni tempah yang harus dilestarikan di generasinya. Keluar dari dunia kerajinan sama dengan memutus rantai generasi pengrajin tembaga di Tumang. (Rayful Mudassir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *