Pesan sekarang!
Barang Bekas Dihargakan Mahal dan Dijadikan Baru di Luar Negeri

Barang Bekas Dihargakan Mahal dan Dijadikan Baru di Luar Negeri

Barang Bekas Dihargakan Mahal dan Dijadikan Baru di Luar Negeri

RESERSE Kriminal Khusus Polda Metro Jaya berhasil mengungkap misteri tumpukan sampah kabel penyebab banjir di kawasan ring satu sekitar Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Enam pelaku ditangkap. Wartawan Media Indonesia, Jonggi Manihuruk, Sry Utami, dan Ardhy Winata Sitepu, menelusuri bagaimana bisnis penadah barang bekas serta semrawutnya utilitas di Jakarta disajikan secara bersambung. Tulisan ini bagian keempat. Selamat membaca.

INDONESIA itu asyik. Jual beli barang bekas sekalipun itu tembaga,kabel, logam, dan besi, tidak perlu surat. Media Indonesia menelusuri jual beli gulungan tembaga dalam jumlah besar di Manggarai, Jakarta Selatan, dan Kampung Rambutan, Jakarta Timur, pengepul tidak meminta dokumen saat bertransaksi.

Pengepul tembaga bekas, Haji Eman yang menggunakan bendera UD Putra Perkasa di kawasan Manggarai, misalnya, membeli berbagai jenis tembaga, termasuk tembaga lidi kupas bekas PLN dengan harga bervariasi.

“Untuk jenis tembaga lidi kupas, kita sanggup Rp50 ribu per kilogram. Kalau barangnya banyak, bisa Rp52 ribu per kilogram,” cetusnya, pekan lalu.

Selain jenis tembaga lidi kupas, tembaga yang memiliki rongga, seperti tembaga bekas AC pun diterima. Cuma, harganya lebih murah sekitar Rp47 ribu perkilogram.

“Harga tembaga sedang anjlok. Kalau harga lagi bagus, tembaga lidi kupas PLN bisa Rp70 ribu perkilogram,” rayunya.

Media Indonesia (pura-pura) menawarkan tembaga lidi kupas berjenis XLPE 3×240 mm2 dengan diameter pelindung 3-5 cm sebanyak 500 kg sebagaimana jenis kabel PLN di Jalan Medan Merdeka Selatan.

Dengan memperlihatkan gambar barang yang bersumber dari internet, Haji Eman langsung menyanggupi membeli. Bahkan, dia janji menaikkan harga jika barangnya masih berkualitas baik.

“Bawa kemari atau mau dijemput ke tempat sampean juga boleh. Saya menawarkan harga Rp52 ribu per kilogram. Nanti kalau sudah lihat barangnya bisa naik lagi,” tuturnya.

Menurut pekerja Haji Eman, setiap hari ada saja penjual kabel tembaga lidi kupas seperti milik PLN dijual ke sana.

“Cuma jarang yang 500 kilogram. Paling banyak cuma 50 kilogram. Sementara pemulung kecil cuma sekitar 10 kilogram,” tukasnya.

Tembaga lidi kupas yang dibeli Haji Eman, kata anak buahnya, dijual lagi ke pemborong di Cipinang, Jaktim, atau Cengkareng, Jakbar.

Selanjutnya tembaga bekas itu diekspor ke luar negeri. Pemborong mengekspor dengan harga Rp60 ribu ribu-Rp70 ribu per kilogram dalam jumlah besar.

Pengepul lainnya bernama Yanto dengan bendera usaha Komite Rakyat Mandiri di Kampung Rambutan, Jaktim, menghargai tembaga jenis kabel PLN produk 1964 seharga Rp50 ribu-Rp55 ribu per kilogram.

“Ada saja yang menjual kabel-kabel PLN kemari. Terkadang ada juga lelang resmi dari PLN untuk penjualan kabel bekas dalam partai besar. Kalau yang datang perorangan, kami minta surat kepemilikan, untuk meyakinkan barang tersebut legal,” cetus Yanto kurang meyakinkan.

Yanto mengekspor tembaga-tembaga bekas ke berbagai negara untuk diproduksi kembali menjadi kabel baru.

“Permintaan dari luar negeri sangat tinggi,” terangnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *