Pesan sekarang!
Menguak Misteri Nama Kota Tembaga Pura

Menguak Misteri Nama Kota Tembaga Pura

Menguak Misteri Nama Kota Tembaga Pura

Pernahkah kita terpikir, mengapa ada sebuah kota yang diberi nama Tembaga Pura? Sepintas mendengar nama itu, pastilah orang menyangka bahwa di daerah tersebut tentu terdapat tambang tembaga.

Ya, memang benar. Disanalah lokasi tambang tembaga itu berada, yang konon kabarnya merupakan salah satu tambang tembaga terbesar di dunia. Wow.. Indonesia punya tambang tembaga terbesar !. Siapa pengelolanya? Tak lain dan tak bukan adalah PT FREEPORT, yang keberadaannya saat ini tengah ramai dibicarakan oleh semua media.

Nah, lalu apa masalahnya dan siapa yang memberi nama Tembaga pura?

Tembaga Pura adalah sebuah nama kota kecamatan, tepatnya di wilayah kabupaten Timika propinsi Papua. Dulu, pada tahun 1973, kala itu Presiden Soeharto datang mengunjungi wilayah eksplorasi tambang milik PT Freeport, dan memberi nama kota itu dengan Tembaga Pura.
Tahukah anda, bahwa di dalam setiap area pertambangan tembaga, selalu terdapat kandungan emas, atau dengan kata lain diantara bongkahan batuan mengandung bijih tembaga, pasti akan ditemukan juga emas disana meski komposisi emas yang ada, relatif lebih kecil dibanding tembaga. Tapi jangan salah, sebagaimana kita ketahui harga tembaga dipasaran antara Rp. 70.000 – 80.000,- per kilogram, sedangkan harga emas per kilogram berapa? Ya benar Rp. 500 Juta !!.

Jadi, meskipun kedua logam yang ditemukan ditempat yang sama, tapi harganya sangatlah jauh berbeda, seperti bumi dan langit. Harga tembaga hanya seperlimapuluhjuta kali harga emas! Luar biasa bukan?

Saya bukannya mau berspekulasi dalam hal ini, tapi sangatlah wajar bila ada orang yang berpikir bahwa nilai kandungan emas yang ada didalam deposit tembaga dalam satu wilayah pertambangan, bisa jadi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai tembaganya sendiri. Mengapa saya berpendapat demikian, sebab sesuai data dalam 2,52 Miliar ton bijih logam di sana, terdapat komposisi : 0,97 gram/ton tembaga, 0,83 gram/ton emas dan 4,13 gram/ton perak

Terkait dengan hal ini, mengapa kota itu dinamakan Tembaga Pura? Bukankah lebih pantas bila diberi nama ‘Kota Mas’ / Gold City atau boleh juga diberi nama ‘Kota Mulia’? Inilah yang membuat saya bertanya-tanya, mengapa Presiden Soeharto kala itu memberinya nama Tembaga Pura, bukan Kota Mas?

Apakah biar semua orang tahunya di sana adalah tambang tembaga dan seakan menyembunyikan keberadaan logam mulia berupa emas? Dan mengapa keberadaan tambang emas di sana seakan-akan harus disembunyikan? Apa yang ada dibenak Soeharto kala itu?

Mengapa saya disini mempersoalkan nama Tembaga Pura, sebab terkait dengan aktifitas pertambangan disana yang hanya dikuasai oleh PT Freeport sejak tahun 1967. PT Freeport Indonesia adalah perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc yang bermarkas di AS. Dari namanya saja sudah jelas, bahwa Freeport khusus bergerak dibidang pertambangan tembaga dan emas. Mereka telah diberi hak konsesi (pengelolaan) pertambangan emas (bukan hanya tembaga) di Papua yang tertuang dalam kontrak selama 30 tahun yaitu sampai dengan tahun 1997, dan kemudian diperpanjang lagi hingga 2017 di akhir masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Taukah anda mengapa kontrak diperpanjang sampai 2017?
Usut-punya usut, ternyata cadangan emas yang ada disana memang akan habis pada sekitar tahun 2017 yaitu khusus area tambang terbuka di Grasberg. Untuk diketahui, PT Freeport menerapkan dua teknik penambangan, yakni open-pit atau tambang terbuka di Grasberg dan tambang bawah tanah di Deep Ore Zone (DOZ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *