Pesan sekarang!
Bikin Aksesoris dari Kawat Tembaga, Pengusaha ini Hasilkan Omzet Rp50 Juta/Bulan

Bikin Aksesoris dari Kawat Tembaga, Pengusaha ini Hasilkan Omzet Rp50 Juta/Bulan

Bikin Aksesoris dari Kawat Tembaga, Pengusaha ini Hasilkan Omzet Rp50 Juta/Bulan

Kawat tembaga yang sering digunakan sebagai bahan untuk dinamo, trafo atau alat-alat lain yang berhubungan dengan listrik, namun bagi Ummi Rahmawati (25) warga Palembang, Sumatera Selatan ternyata bisa dibuat aksesoris nan cantik dan menarik.

Kawat tembaga ini bisa dibuat aksesoris khususnya dikenakan kaum hawa seperti gelang tangan, kalung, cincin, bros dan lainnya sehingga karyanya itu memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

“Awalnya saya hanya mencoba membuat aksesoris yang terbuat dari kawat tembaga ini, karena hobi,” kata pengrajin aksesoris dari kawat tembaga Manikqumanikam, Ummi Rahmawati di Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Menurut dia, usaha aksesoris itu mulai digelutinya pada tahun 2011 dengan modal sendiri dari uang beasiswa saat kuliah sebesar Rp1,5 juta.

Dengan modal sebesar itu ia membeli bahan-bahan yang dibutuhkannya seperti kawat tembaga untuk membuat berbagai aksesoris perempuan tersebut.

Ternyata aksesoris dari kawat tembaga ini cukup bagus dan menarik untuk dikenakan baik itu berupa gelang tangan, cincin, kalung dan lainnya.

“Kalau untuk desainnya saat ini saya membuatnya dari inspirasi saya sendiri,” ujanya sambil memperlihatkan koleksi aksesoris di galerinya tersebut.

Ia menuturkan, kalau untuk bahan kawat tembaga itu didatangkan dari Jakarta dan ada pula yang impor.

Harga kawat tembaga itu yang lokal Rp400 ribu per kilogram, sedangkan impor harganya lebih mahal bisa dua kali lipat bahkan lebih yakni Rp1,4 juta per kilogram, jelasnya.

Penjualan Online Sementara kalau untuk penjualan aksesoris dari kawat tembaga itu, lanjut Ummi, tidak sulit, karena peminatnya cukup banyak, apalagi kalau ada pameran atau bazar yang diselenggarakan.

“Kalau untuk penjualan aksesoris dari kawat tembaga ini selain di butik, juga kami jual dalam jaringan internet (online),” kata dia.

Ia menyatakan, pemasaran aksesoris yang terbuat dari kawat tembaga itu seperti cincin, gelang tangan, bros, dan kalung juga dilakukan melalui pameran-pameran yang ada.

“Jadi, kalau ada pameran kami ikut dan omset penjualan yang diperoleh biasanya sampai puluhan juta rupiah,” katanya.

Ia menuturkan, terkadang saat pameran ada yang memborong aksesoris itu, seperti kalung sehingga omsetnya juga lebih besar yang diperoleh.

Ia menyampaikan, kalau pameran atau bazar yang mereka ikuti bukan hanya di Sumatera Selatan saja, tetapi di luar provinsi ini seperti Lampung, Jakarta, Bali, Lombok dan Surabaya.

“Ada juga yang membeli dalam jumlah banyak aksesoris itu untuk dijual kembali kepada masyarakat luas,” tuturnya.

Harga aksesoris itu bervariasi tergantung jenisnya seperti cincin paling murah dijual dengan harga Rp25 ribu per buah, kalung Rp100 ribu per buah, dan bros Rp35 ribu per buah, sedangkan paling mahal sekitar Rp3,5 juta untuk satu set kalung, cincin dan gelang tangan, jelasnya.

Namun demikian, lanjut dia, penjualannya tidak mengalami kesulitan karena peminat aksesoris yang terbuat dari bahan kawat tembaga di Palembang hingga saat ini cukup tinggi.

Selain ibu-ibu yang membeli, ada juga perempuan muda yang ingin tampil modis dengan aksesoris hasil karyanya tersebut.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga menerima pesanan dengan desain sendiri dari pemesan, dan bagi masyarakat yang mau harganya akan disesuaikan dengan tingkat kesulitan dalam membuatnya.

“Bagi masyarakat yang ingin bingkai kalung, cincin dan lainnya juga kami layani dan biayanya tergantung kawat tembaga yang digunakan dan tingkat kesulitannya dalam membuat,” ujar dia.

Ia menyatakan, kalau cincin mulai dari Rp25 ribu, sedangkan kalung Rp200 ribuan, karena tingkat kesulitan dalam membingkainya lebih sulit.

Layani Kursus Lebih lanjut Ummi menuturkan, selain menjual produk tersebut, pihaknya juga melayani bagi masyarakat yang ingin kursus membuat aksesoris dari kawat tembaga tersebut.

Kalau yang kategori basic (dasar) untuk kelas pemula biayanya Rp300 ribu, karena tidak begitu sulit seperti membuat bros dan cincin.

Sementara kalau untuk tingkat kesulitannya tinggi seperti membuat kalung dan semuanya maka biayanya bisa sampai Rp3 juta per orang.

“Kami akan mengajari mereka yang kursus itu sampai bisa membuat aksesoris dengan biaya tersebut,” jelasnya.

Ia mengatakan, kalau yang tingkat pemula ini kemungkinan dalam satu hari sudah bisa membuatnya, karena tidak terlalu sulit, berbeda dengan membuat kalung dan gelang.

“Kami juga membuat kalung dan cincin kawat tembaga itu dengan memanfaatkan batu akik khas Sumatera Selatan seperti lavender, teratai dan lainnya,” tuturnya sambil memperlihatkan karyanya dengan hiasan dari batu jenis teratai.

Saat ini, omzet yang diperolehnya dari hasil karyanya itu rata-rata Rp10 juta hingga Rp50 juta per bulan, tetapi kalau ada bazar atau pameran bisa lebih besar lagi.

“Dengan kerajinan kawat tembaga ini saya juga bisa membantu keluarga,” kata dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *